Blog Saya yang Sebenarnya
June 6th, 2008 by eros-destructioKawans…
Saya bisa dijamah lewat http://riangembira.info
Ditunggu kedatangannya ya…
Thx
Kawans…
Saya bisa dijamah lewat http://riangembira.info
Ditunggu kedatangannya ya…
Thx
Tanggal 12-15 April kemarin, aku ke MOjokerto. Awalnya bingung, harus minta tolong siapa untuk membantuku hunting data di sana. Mas Malik, akhirnya orang yang kupilih untuk kurepoti. Bahkan beliau memberiku kontak yang berharga: Cak Edy Karya, Pemilik Ludruk Karya Budaya Mjk. Mas Malik pula yang mengenalkan aku pada Bu Max Arifin, seseorang yang ramah, baik hati, dan humoris. Juga pada Fahrudin, penulis yang sering namanya dimuat di media cetak regional-nasional. Beliau pula yang dengan setia mengantarku ke sana kemari tanpa lelah dan sangat membantuku saat kebuntuan menghadangku. Perkenalan ini juga tidak meninggalkan pada sosok mba Novi, perempuan Mas Malik yang rela menjemputku bahkan memberi kenyamanan perutku dengan berbagai sajian.
Bapak Eko Edy Susanto a.k.a Cak Edy KArya adalah seseorang yang berkontribusi besar pada data-data kebutuhanku. Dengan kebaikan beliau, diajaknya aku melihat ludruk dari dekat. Semua pengalaman yang diceritakannya padaku sangat membantuku melihat lebih luas tentang ludruk, senimannya, perubahan sosial, pasar dan kreativitas. Berkat Pak Edy pula, aku merasakan menonton ludruk di atas dan di balik panggung. Keramahan Pak Edy bergaris lurus dengan Ibu Edy yang pengasih. Selama aku kembali berkunjung ke sana, seberapa malam pun kami kembali, Ibu Edy sendiri yang selalu membukakan pintu.
Akhirnya, aku hanya bisa mengucapkan TERIMA KASIH. Tidak ada yang bisa kuberikan selain permohonan semoga aku diberi kesempatan membalas kebaikan mereka semua padaku selama ini.
Beberapa hari ini seorang kawan yang ketemu di FS mengirimkan buletin dalam bilbo tentang Papernas=PKI. Isinya melulu: ganyang, bunuh, habisi Papernas=PKI. Geram banget rasanya melihat anak muda yang menelan semua yang ada di hadapannya mentah-mentah.
Akhirnya dia membalas imelku. Isinya masih sama. Tidak ada reasoning atas pendapatnya. Aku ngeri dengan manusia kayak dia yang menyuruh menyebarkan berita begituan via bilbo.
Kapan kesalahan sejarah seperti ini akan terselesaikan? Kapan pula rekonsiliasi? Kapan juga kita kan berhenti "berebut benar"?
Sekarang sudah bulan April. Menjelang tanggal 21, perempuan-perempuan pasti akan ’sibuk’ dengan berbagai perhelatan. Tidak tua, tidak muda, bahkan anak-anak sekali pun. Acaranya? Bergaya mirip Kartini!
Kartini akhirnya jadi paradoks, di satu sisi dengan semangat mengubah bangsanya, ia melawan dengan tulisannya. Tapi nyatanya, sekarang, malah ma EO-EO dijadikan event yang dapat mengeruk keuntungan! belum lagi perempuan-perempuannya sendiri sadar atau tidak, ikut pula menjadi bagian permainan itu. Dimanakah semangat pembebasan Kartini kalau begitu?
Balum lagi, konteks kepahlawanan Kartini, bagiku jadi bermasalah. Sebenernya Kartini itu memperjuangkan siapa? dirinya sendiri atau kaumnya sih? Saat dia memperjuangkan kesetaraan perempuan di wilayah publik, pada saat yang sama apakah ia juga melihat bagaimana perempuan di masa itu yang tengah mengalami kejahatan Tanam Paksa? Siapa yang ia perjuangkan? Siapa yang ia representasikan?
Jelas, ia putri bangsawan, kendati beribu orang jelata, yang mempunyai privelage luar biasa hebat dibandingkan perempuan jelata. Dengan hidup berpola kebangsawanan, ia pasti dilingkupi segala macam beban tradisi yang pastinya harus selalu terjaga dalam ruang keraton. Beda dengan perempuan biasa, yang bebas dari norma keraton seperti itu. Lalu apa masalahnya? Sampai sekarang pun, kalau masih ada tatanan feodal, ga di Indonesia, ga di Inggris or belahan bumi mana pun, tetep aja, norma begituan ga akan pernah dilepasakan. Ini menyangkut citra kok…
Kalau benar ia ingin melepaskan belenggu perempuan Indonesia, ia tak hanya perlu menulis, yang saat itu yang terpenting adalah juga mengaji. tapi memberi kontribusi penuh atas tulisan itu buat kaumnya, minimal saat itu. tidak hanya menulis yang akhirnya kesannya menimbulkan belas kasihan pada perempuan semata.
Toh, dengan segala macam tulisannya dan motto "Aku mau..!" ia tidak bisa lepas dari seperti yang telah ia tuliskan. tetap saja ia tak pernah bisa equal dengan pernikahan dan kepatuhan pada ayahnya?
Apakah masih hanya Kartini saja yang akan terus didengung0dengunkan sebagai pahlawan? Bagaimana dengan Ratu Kalinyamat, Ratu Simha, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Marsinah, bahkan ibu kita sendiri. Bukankah mereka juga pahlawan yang tentunya tak mengandung nilai politis apapun seandainya mereka terus saja disebut pahlawan bagi kehidupan kita. Tidak seperti halnya Orba yang mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Indonesia.
Baru saja aku dapat imel dari temen. imel itu dah ku forward juga via FS. entahlah apa ada yang care dengan berita begituan di FS
Temenku namanya Taufik Sholeh. Dia aktivis RIAK, Jember. tanggal 3 Aril kemarin, dia dipukuli oleh, ternyata, temannya juga. Temannya tidak sepakat dengan apa yang ditulis Taufik ini.
Apapun alasannya, hal seperti ini tidak bisa dibenarkan baik oleh urusan moral bahkan hukum sekali pun! Meski tidak setuju dengan isi tulisan itu, apa boleh seseorang (bahkan sekawanan orang) melakukan tindakan fisik bahkan intimidasi akan menghabisi nyawa seseorang? Seharusnya, jika tidak sepakat dengan tulisan itu, balas juga dengan tulisan yang menyajikan fakta lain.
Ah, negara apa ini?! Sampai kapan ketidakadilan ini akan berlanjut? Kenapa, seperti kata Pram, kita tidak memulai keadilan dari pikiran kita?
Kemarin sore aku nonton Berbagi Suami. Salut! film yang penuh dialog (narasi) kadangkala membuatku bosan. tapi film ini lain, ia tetap bisa buat aku tinggal di tempat, bahkan sekedar untuk pipis pun! haha…
Film ini memang mengejek realitas poligami yang sekarang dah ga marak lagi dibicarakan. terakhir, aa’ gym menjadi subjek atas perilaku ini. kabarny, seperti aku baca di Tempo entah kapan, komunitas taushiyah (gimna nulis benernya nih
) -nya menjadi sepi. hal ini berbanding lurus ma pedagang2 yang biasanya berjaja di sana.
Ah, poligami emang kejam. Meski tetep aja ada orang seperti Salmah yang menjunjung tinggi karena (terpaksa) menerima dengan dalih agama. Padahal, si anak tau, ibunya menderita dengan semua itu. Tapi, gimana pun aku tetep harus menerbitkan rasa hormat pada perempuan yang rela berbagi suami. Berat banget menerima rasa yang disebut cemburu. Kadangkala aku berpikir, enak juga jadi seseorang seperti A Ming. Cari saja lelaki kaya yang bisa memenuhi hasrat Aman dan Nyaman. Tapi tetep saja beresiko hidup tinggi (ah, bukankah hidup sendri sudah berisiko?)Terlalu banyak rintangan sosial buadaya yang harus dihadapi.
Bagiku seseorang yang berpoligami tak bermoral, apalagi tanpa ijin, sepengetahuan dan sebab yang mendasar karena ketidakmampuan istri. bahkan sebenrnya ga etis juga gara2 istrinya mempunyai kekurangan kemudian si suami cari istri lagi. dimana ikrar setia hidup semati saat ijab kabul dulu? apakah menikah kemudian hanya berbagi kebahagiaan saja? setelah nemu kekurangan, cari istri baru?
dunia ini selalu tidak adil pada perempuan. dengan adanya poligami, apakah semua perempuan mau adil pada dirinya sendiri?